Penelitian Tindakan Kelas (PTK) BAHASA INDONESIA SMA

PENINGKATAN KETERAMPILAN PIDATO PERSUASIF

PADA PELAJARAN BAHASA INDONESIA MELALUI

METODE SIMULASI LOMBA PIDATO BERBAHASA INDONESIA

PADA KELAS XII IPS 1 SEMESTER 1 SMA NEGERI AJIBARANG

TAHUN PELAJARAN 2009/2010

Sutoro*

Abstrak: Penelitian ini dilatarbelakangi rendahnya hasil belajar bahasa Indonesia kelas XII IPS 1 SMA Negeri Ajibarang. Tujuan penelitian ini untuk membuktikan bahwa Metode Simulasi Lomba Pidato Berbahasa Indonesia dapat meningkatkan keterampilan pidato persuasif siswa kelas XII IPS 1 semester 1 Tahun Pelajaran 2009/2010. Penelitian dilaksanakan dalam dua siklus. Alat yang digunakan dalam penelitian ini meliputi lembar pengamatan, bagan lomba, lembar soal evaluasi, lembar penilaian. Data yang diperoleh menunjukkan adanya peningkatan hasil belajar, yaitu hasil evaluasi tertulis siklus I adalah 68,40 siklus II 86,06. psikomotorik siklus I 63,20, siklus II 69,00. Ketuntasan belajar siklus I 25%, siklus II 82%.

Kata kunci: ketrampilan, metode simulasi, pidato.
Pendahuluan.

Kesan bahwa materi pelajaran berpidato pada mata pelajaran bahasa Indonesia tidak menyenangkan (membosankan), yang muncul setiap siswa diajar ketrampilan berpidato, menjadi cermin betapa mengajarkan materi berpidato sebagai materi yang harus diusahakan sungguh-sungguh. Pidato masih dianggap momok, sesuatu yang menakutkan bagi siswa. Untuk dapat berpidato di depan khalayak memang harus menguasai materi yang hendak disajikan, harus mempunyai teknik berbicara yang baik, mempunyai keberanian mental. Jadi tidak sekadar teori pidato, apalagi tanpa praktik.

Teknik mengajar yang konvensional tidak lagi dipercaya sebagai sistem yang relevan dengan tuntutan kemampuan psikomotorik pada hasil belajar siswa. Guru dituntut inovatif dalam menggali metode-metode pembelajaran. yang kreatif. Guru tidak lagi harus mempertahankan dan membanggakan teknik maupun metode masa lalunya. Zaman semakin berkembang, tuntutan masyarakat semakin meningkat. Metode mengajar pun harus semakin bervariatif. Guru yang masih berkutat dengan metode mengajar masa lalunya, akan “ditinggalkan” oleh siswa-siswanya.

Proses belajar di sekolah bukan sekadar memorisasi dan recall, bukan sekadar penekanan pada penguasaan tentang apa yang diajarkan (logos). Akan tetapi, lebih menekankan pada internalisasi tentang apa yang diajarkan sehingga tertanam dan berfungsi sebagai muatan nurani dan dihayati serta dipratikkan dalam kehidupan oleh peserta didik (etos).(Depdiknas MPMBS, 2001).

Berbicara di depan publik, suka atau tidak, merupakan keterampilan yang harus kita kuasai, karena pada suatu saat dalam kehidupan kita, pastilah kita harus berbicara di hadapan sejumlah orang untuk menyampaikan pesan, pertanyaan, tanggapan atau pendapat kita tentang sesuatu hal yang kita yakini. (http://sinarharapan.co.id, 2002).

Diakui atau tidak, lebih dari 60% siswa merasa takut bila harus berpidato dalam forum formal di depan banyak orang (public). Baik pada diskusi, ceramah, presentasi, maupun pidato perpisahan, bahkan pidato di depan teman sekelasnya.

Fenomena ini sangat memprihatinkan bagi guru bahasa Indonesia. Betapa tidak, keterampilan berbicara adalah bagian dari empat aspek keterampilan pelajaran bahasa yang harus diajarkan kepada siswa. Jadi bukan hanya teori yang harus dikuasai, namun kemampuan praktik berbahasa pun harus dikuasai.

Sering pengajaran pidato, guru menggunakan metode ceramah , siswa kurang mendapat kesempatan melakukan praktik berbicara di depan orang lain, karena lebih banyak bersifat teori. Maka dapat diartikan kemampuan berpidato siswa sebatas teori.

Dari fenomena di atas maka upaya peningkatan kemampuan berpidato para siswa merupakan hal yang mendesak dan segera diatasi jalan keluarnya.

Salah satu upaya untuk itu adalah menerapkan Model Pembelajaran dengan Metode Simulasi Lomba Pidato pada Mata Pelajaran Bahasa Indonesia, yang diharapkan mampu meningkatkan kemampuan berpidato para siswa.

Dengan demikian maka masalah dalam penelitian tindakan ini ialah:

Apakah Hasil prestasi siswa dapat ditigkatkan melalui Motode Simulasi Lomba Pidato Berbahasa Indonesia?

Motode Simulasi Lomba Pidato Berbahasa Indonesia, bertujuan meningkatkan kemampuan guru dalam menerapkan metode pembelajaran pidato, sehingga dapat meningkatkan ketuntasan belajar siswa, terutama pada pembelajaran pidato. Dan meningkatkan prestasi akademik siswa.

Lima Hukum Yang Komunikatif (The 5 Inevitable Laws of Effective Communication) yang dirangkum dalam satu kata yang mencerminkan esensi dari komunikasi yaitu REACH (Respect, Empathy, Audible, Clarity, Humble), yang berarti merengkuh atau meraih. Karena diyakini bahwa komunikasi pada dasarnya adalah upaya bagaimana meraih perhatian, cinta kasih, minat, kepedulian, simpati, tanggapan, maupun respon positif dari orang lain. (http://sinarharapan.co.id, 2002).

Jadi pidato merupakan perpaduan ketrampilan dalam meraih perhatian pendengar, menyampaikan materi pidato dengan penuh cinta kasih, membangkitkan minat pendengar terhadap materi pidato, sehingga tumbuh kepedulian, dan simpati positif, serta berani memberikan tanggapan dan respon positif terhadap peristiwa dalam materi pidato.

Pidato menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia yaitu pengungkapan pikiran dalam bentuk kata-kata yang ditujukan kepada orang banyak. Dalam hal ini pikiran yang akan disampaikan kepada orang banyak tentu merupakan informasi atau ilmu bagi orang lain, yang dapat berasal dari bidang lain, di luar bahasa Indonesia. Ini artinya seorang yang berpidato membutuhkan penguasaan materi pidato, di samping itu harus menguasai teknik berpidato, bagaimana menyampaikan materi yang runtut, jelas, mudah dimengerti. Ini semata-mata karena mereka akan berhadapan dengan orang banyak (public).

Banyak cara yang telah dilakukan oleh guru untuk menyampaikan pelajarannya di depan kelas. Tidak sedikit variasi yang dipakai guru dalam kegiatan belajar mengajar. Segala teknik telah diterapkan untuk mempermudah penyampaian materi pelajaran kepada siswa, sehingga pembelajaran menjadi lebih efektif. Teknik, cara, ataupun apa istilahnya, dalam kegiatan belajar mengajar dinamakan metode. Bagaimana sesungguhnya metode yang dapat digunakan dalam pengajaran pidato di kelas?

Pidato merupakan jenis keterampilan yang menuntut keberanian untuk mencoba, bukan sekadar teori berpidato. Agar siswa benar-benar diberi kesempatan pidato, minimal di depan teman sekelasnya, maka metode simulasi adalah salah satu metode yang dapat digunakan. Dengan keseringan mencoba praktik pidato akan tumbuh keberanian, dan selanjutnya mampu meningkatkan kemampuan diri sehingga dapat memperbaiki kesalahan sendiri.

Metode Simulasi adalah bentuk metode praktik yang sifatnya untuk mengembangkan keterampilan peserta belajar (keterampilan mental maupun fisik/teknis). Metode ini memindahkan suatu situasi yang nyata ke dalam kegiatan atau ruang belajar karena adanya kesulitan untuk melakukan praktik di dalam situasi yang sesungguhnya. (http://media.diknas.go.id/media/document/3553.pdf).

Setidaknya metode simulasi memberi kesempatan pada siswa untuk mencoba pidato, mulai dari persiapan sampai dengan penampilan di depan orang lain. Bukan sekadar belajar teori pidato, atau sebatas pengetahuan pidato, tetapi belajar teori pidato yang sekaligus mempraktikannya. Maka keterampilan pidato, yang memang membutuhkan banyak pengetahuan. Metode simulasi ini dapat membantu guru bahasa Indonesia untuk mempermudah dan mengefektifkan pembelajaran pidato di hadapan para siswanya.

Lomba pidato adalah ajang kompetisi ketrampilan pidato bagi siswa. Ajang simulasi pidato dapat dimanfaatkan sebagai ajang berlatih bagi para siswa sebelum mereka terjun ke masyarakat.

Menurut kamus Besar Bahasa Indonesia, pengertian lomba adalah 1. adu kecepatan (berlari, berenang, dsb). 2. adu ketrampilan (ketangkasan, kekuatan dsb.). Jadi pada situasi lomba yang dimaksud dalam pengertian ini adalah mengubah kondisi kelas pembelajaran menjadi situasi berlomba. Dalam hal ini penekanannya pada; adanya adu ketrampilan antarsiswa, sehingga ada rasa bersaing sesama siswa, ada unsur penilaian. Penilaian ini akan berdampak siswa mempersiapkan diri dengan sebaik-baiknya. Ada unsur kemenangan. Siswa akan merasa bangga atas prestasi yang dapat dicapai. Ada unsur penghargaan. Penghargaan ini hanya sebatas pada nilai maupun pujian, ataupun sebutan tertentu, seperti super orator atau sebutan yang lain.

Namun, kembali lagi bahwa lomba ini hanya merupakan simulasi untuk pembelajaran. Jadi sifatnya penyemangat, dan klinis, memperbaiki kemampuan belajar siswa, suasana menyenangkan, dan pada penilaiannya pun tidak membuat siswa jera, bagi yang tidak dapat meraih prestasi baik. Dan tidak menjadikan siswa takabur, bagi yang berprestasi baik.

Pada cakupan ini, lomba yang dimaksud adalah lomba pidato berbahasa Indonesia. Artinya materi pidato boleh dari berbagai tema, tidak harus tema-tema ilmu bahasa Indonesia, tetapi boleh tema ekonomi, lingkungan, politik, sosial, budaya, atau yang lain sebatas tidak melanggar hukum maupun kaidah SARA. Dan pidato ini harus menggunakan bahasa Indonesia.

Pidato, di samping untuk memberi informasi kepada pendengar, bisa untuk mempengaruhi atau memerintahkan sesuatu kepada pendengarnya supaya berbuat sesuatu yang diinginkan pembicaranya.

Menurut Burgoon & Rufner, persuasi ialah proses komunikasi yang bertujuan mempengaruhi pemikiran dan pendapat orang lain agar menyesuaikan pendapat & keinginan komunikator. Atau proses komunikasi yang mengajak atau membujuk orang lain dengan tujuan untuk mengubah sikap, keyakinan, dan pendapat sesuai keinginan komunikator. Namun ajakan ini bukan berarti paksaan atau ancaman. (http://baguspsi.blog.unair.ac.id/2008/10/15/komunikasi-persuasi/)

Apabila pidato itu ditulis maka menjadi bentuk teks pidato yang siap dibacakan (menggunakan teknik membaca teks) maka tulisan itu pun harus bersifat persuasi.

Tulisan persuasif adalah tulisan yang berisi himbauan atau ajakan kepada orang lain untuk melakukan sesuatu seperti yang diharapkan oleh penulisnya. Agar hal yang disampaikan itu dapat mempengaruhi orang lain, tulisan harus disertai penjelasan dan fakta-fakta. (Dwi Hartati, http://www.oke.or.id/tutorial/BI-pargrafpersuasif.pdf).

Jadi intinya agar siswa dapat mempengaruhi orang lain (audiens) untuk melakukan sesuatu, sesuai keinginan pembicara.

Pidato merupakan bagian dari proses komunikasi. Dalam sebuah komunikasi tentu ada lawan bicara, ada kandungan informasi yang disampaikan. Muatan informasi yang disampaikan dapat dipahami dengan mudah dan benar. Di samping itu pidato dapat mengakibatkan berubahnya pikiran pendengar selaras dengan isi pidato yang telah didengarnya.

Komunikasi dapat dipandang sebagai suatu komunikasi perbuatan-perbuatan atau tindakan-tindakan serangkaian unsur-unsur yang mengandung maksud dan tujuan. Komunikasi bukan merupakan suatu kejadian, peristiwa, sesuatu yang terjadi, komunikasi adalah sesuatu yang fungsional, mengandung maksud dan dirancang untuk menghasilkan beberapa efek atau akibat pada lingkungan para penyimak dan para pembaca. Brown (dalam Tarigan, 1981:10-11).

Jadi pidato merupakan proses komunikasi yang berisi sebuah informasi, mengandung maksud, dan menimbulkan efek berubahnya pikiran seseorang.

Oleh karena itu untuk dapat melakukan pidato, seseorang harus dapat menguasai informasi atau materi yang akan dikomunikasikan, harus menguasai teknik berbicara agar maksud informasi dapat dipahami dengan baik, pidato efektif, serta mampu mengubah pikiran pendengar.
METODE

Kegiatan ini dirancang sebagai penelitian tindakan kelas. Subjek penelitian ini siswa kelas XII IPS1 SMA Negeri Ajibarang.

Penelitian tindakan kelas ini dilaksanakan dalam dua siklus. Tiap siklus terdiri atas tahap perencanaan, tahap Pelaksanaan tindakan, tahap observasi, tahap refleksi. Secara singkat dapat dilihat pada Tabel 1 di bawah ini.

TABEL 1 Pelaksanaan Tindakan pada Setiap Siklus

Siklus/Materi

Pokok/Waktu

Rencana Tindakan

Awal

Pertengahan

Akhir

Siklus 1

Cara berpidato tanpa teks dengan lafal, intonasi, nada, dan sikap yang tepat

4 x 45 menit

Siswa mempersiapkan diri untuk memper-oleh pelajaran tentang pidato, dan penyiapan alat tulis masing-masing. Guru menyiapkan perangkat mengajar, lembar-lembar pengamatan. Siswa memperhatikan penjelasan guru ten-tang teknik pidato, seperti komponen pidato, teknik pidato dari segi lafal, intonasi, nada, dan sikap pidato.

Siswa menyusun teks pidato persuasif.

Siswa pratik pidato dan sekaligus meng-amati teman lain yang sedang berpidato. Guru melakukan observasi.

Siswa mendisku-sikan kekurangan dan kelebihan dalam pidato, melaksana-kan nevaluasi. Guru melakukan refleksi
Siklus 2

Cara berpidato tanpa teks dengan lafal, intonasi, nada, dan sikap yang tepat (perbaikan teknik/ metode)

4 x 45 menit

Siswa lebih memper-siapkan diri untuk memperoleh informasi yang lebih lengkap.

Guru menyiapkan materi menggunakan media pembelajaran berbasis multimedia.

Siswa memperoleh penjelasan dengan metode mengajar yang lebih lengkap. Guru melakukan presentasi menggunakan media pembelajaran berbasis IT. Siswa memberikan komentar atas pem-belajaran pidato yang telah dilaku-kan. Dan melaksana-kan evaluasi tertulis

Guru melakukan refleksi

Pengamatan ini dipusatkan pada aktivitas pembelajaran dan keterampilan siswa dalam melaksanakan tugas pelajaran.

Keunggulan metode simulasi ini, semua siswa mempersiapkan materi pidato yang berupa teks. Semua siswa tampil di hadapan siswa lain di kelasnya. Siswa diberi kesempatan mengamati dan diamati siswa lain dalam berpidato. Baik dari segi bobot materi pidato, penampilan, maupun bahasa yang digunakan.

Data yang akan diambil adalah kualitas teks pidato, data penampilan yaitu: Keakuratan informasi, Hubungan antar-informasi, Ketepatan struktur dan kosa kata, Kelancaran berpidato, Kewajaran urutan wacana, Gaya pengucapan, Lafal, Intonasi, Nada, dan Sikap. Data yang diperoleh dapat berupa nilai kualitatif. Sedangkan data kuantitatif dapat diambil dari nilai evaluasi koqnitif secara tertulis.

Mengingat keterbatasan waktu dan kemampuan peneliti dalam pengambilan data, dengan saat praktik pidato yang hampir bersamaan, maka penulis menggunakan teknik sampel. Pada penelitian tindakan ini sekurang-kurangnya sampel yang digunakan mencapai siswa 20 orang.

Indikator Kinerja penelitian ini setidak-tidaknya 80% dari jumlah siswa dapat membuat teks pidato tertulis. Sekurang-kurangnya 80% jumlah siswa dapat melaksanakan pidato di depan teman-temannya. Sekurang-kurangnya 80% jumlah siswa dapat mengamati penampilan siswa lain. Artinya siswa melihat kelebihan dan kekurangan teknik berpidato siswa lain. Dan sekurang-kurangnya 70% jumlah siswa dapat memahami konsep teknik pidato.
Hasil Penelitian dan Pembahasan

Hasil Penelitian.

Pada awalnya siswa pesimis atas kemampuannya dalam berpidato. Namun setelah mendapatkan penjelasan tentang teknik menyiapkan naskah pidato, teknik berpidato, dan menyaksikan simulasi lomba pidato, maka siswa mulai berangsur lebih optimis. Ada pengetahuan yang belum pernah didapatkan sebelum pembelajaran ini. Setidak-tidaknya ada peningkatan pemahaman tentang konsep berpidato. Namun demikian keterampilan pidato, seperti pembicara yang profesional, belum mampu dikuasai. Masih butuh banyak waktu untuk belajar.

Data observasi yang telah diperoleh dengan model lomba pidato berbahasa Indonesia dalam Siklus 1 masih belum menunjukkan hasil yang memuaskan. Nilai rata-rata kelas praktik berpidato baru mencapai 63,20. Masih berada di bawah nilai KKM yang ditetapkan yaitu 65. Adapun rata-rata skor keakuratan informasi pidato 6,70, Hubungan antar-informasi 6,15, Ketepatan struktur dan kosa kata 6,45, Kelancaran berpidato 6,55, Kewajaran urutan wacana 6,35, Gaya pengucapan 6,25, Lafal 6,45, Intonasi 6,10, Nada 6,15, dan Sikap 6,05. Belum sesuai dengan indikator KKM yang diharapkan. Dan nilai rata-rata evaluasi koqnitif tertulis mencapai 68,40.

Ini berarti masih ada kekurangsempurnaan pada perencanaan ataupun pada proses pembelajaran. Siswa belum dapat melakukan pidato dengan baik, meskipun semua siswa telah mendapatkan kesempatan untuk melaksanakan pidato di depan teman-temannya. Dan hasil evaluasi tertulis menunjukkan hasil yang baik. Dari hasil refleksi pada siklus 1 maka perlu ada perbaikan prosedur pembelajaran pada penyempurnaan model pembelajaran, termasuk pada simulasi pidato.

Memperhatikan hasil Pelaksanaan Kegiatan dalam siklus II diperoleh data bahwa pembelajaran dengan Motode Simulasi Lomba Pidato Berbahasa Indonesia dapat mengalami peningkatan kemampuan dan prestasi. Nilai yang dapat dicapai pada siklus II rata-rata praktik (penampilan) adalah 69,00. Jumlah skor tersebut diperoleh dari rata-rata skor: Keakuratan informasi pidato 7,45, Hubungan antar-informasi 7,00, Ketepatan struktur dan kosa kata 7,09, Kelancaran berpidato 6,91, Kewajaran urutan wacana 6,86, Gaya pengucapan 6,77, Lafal 6,59, Intonasi 6,55, Nada 6,95, dan Sikap 6,82.

Indikator kinerja yang dapat dicapai yaitu semua siswa dapat mengikuti kegiatan belajar mengajar. Ini berarti kinerja siswa melaksanakan pidato di depan teman-temannya, siswa dapat memberikan penilaian terhadap penampilan siswa lain, dapat mencapai 100%. Nilai evaluasi koqnitif tertulis secara umum telah mencapai target yang diinginkan yaitu 86,06 atau 86%.

Melihat dari rata-rata skor yang diperoleh pada masing-masing tingkatan skala yang tersedia belum dapat mencapai skor yang optimal. Belum ada yang dapat mencapai skala 8 (delapan) ke atas. Guru dalam menyampaikan materi sudah lebih baik, lebih lengkap, simulasi lebih mengena pada tujuan pembelajaran. Perhatian siswa terhadap materi pelajaran tampak lebih sungguh-sungguh. Namun melatih kemampuan berpidato siswa ternyata perlu waktu dan keseringan. Motivasi belajar siswa sebenarnya sudah cukup baik, dan antusias. Namun hasil yang dicapai belum dapat optimal, yaitu 69,00.

Akhir siklus II ternyata ketuntasan belajar klasikal sudah dapat mencapai indikator yang diharapkan. Aktivitas guru dalam kegiatan pembelajaran, pengamatan, dan memotivasi siswa semakin baik. Guru semakin siap dalam memandu diskusi, penjelasan terlihat lebih mantap.

Pembahasan

Berdasarkan evaluasi hasil belajar, observasi, dan penilaian tugas, dihasilkan sebuah ringkasan sebagai berikut:

TABEL 2. RINGKASAN HASIL BELAJAR SIKLUS I DAN II

Hasil Belajar, Aktivitas, Nilai tugas

Hasil Belajar

Siklus I

Siklus II

Nilai terendah (praktik)

57

62

Nilai tertinggi (praktik)

71

76

Rata-rata kelas Praktik)

63.20

69.00

Ketuntasan Belajar (praktik)

25%

82%

Rata-rata tugas (teks pidato)

64.05

68.50

Nilai terendah evaluasi koqnitif (tertulis)

63

73

Nilai tertinggi evaluasi koqnitif (tertulis)

78

100

Rata nilai Evaluasi Koqnitif (Tertulis)

68.40

86.06

Ketuntasan klasikal (tertulis)

90%

100%

Aktivitas membuat teks pidato

100%

85%

Aktivitas melakukan pidato

100%

85%

Aktif dalam diskusi/tanya jawab

18%

30%

  • Foto Siswa SMA Negeri Ajibarang
  • Foto Siswa SMAN Ajibarang
  • Dari Tabel 2 dapat dilihat bahwa penerapan Motode Simulasi Lomba Pidato Berbahasa Indonesia dapat memperbaiki hasil belajar maupun ketuntasan belajar klasikal. Nilai terendah yang dapat dicapai 57 pada siklus I dan meningkat pada siklus II yaitu 62. Nilai tertinggi yang dicapai adalah 71 pada siklus I, dan meningkat menjadi 76 pada siklus II. Rata-rata kelas pada siklus I dapat mencapai nilai 63,20 dan meningkat menjadi 69,00 pada siklus II. Ketuntasan belajar klasikal pada siklus I hanya 25%, meningkat pada siklus II menjadi 82%. Dan nilai rata-rata tugas menyusun teks pidato 64,05 pada siklus I meningkat menjadi 68,50 pada siklus II. Jadi secara umum setiap komponen pada siklus I meningkat pada siklus II.

    Meskipun hasil penelitian ini secara keseluruhan belum menggambarkan hasil nilai koqnitif yang optimal dan belum dapat dikatakan “sangat memuaskan”. Teknik guru menggunakan metode dan menggunakan media pembelajaran sudah ada peningkatan, mampu menarik perhatian siswa. Motivasi belajar siswa pun ada peningkatan.

    Pembelajaran dengan Motode Simulasi Lomba Pidato Berbahasa Indonesia pada salah satu kegiatannya dilaksanakan di luar kelas. Siswa tampak senang dan dapat menikmati belajar di luar kelas. Suasana lebih santai, namun tetap sungguh-sungguh melaksanakannya. Dapat menghilangkan rasa takut, yang biasa dirasakan siswa, saat maju berpidato di depan teman-temannya di kelas.

    Metode ini lebih memberi kesempatan siswa untuk mencoba sendiri atau mengalami sendiri, yaitu berpidato di depan teman-temannya (eksperimen). Waktu untuk kegiatan belajar mengajar relatif lebih singkat, meskipun semua siswa harus melakukan pidato secara individual.

    Simpulan dan Saran

    Simpulan.

    Dari hasil penelitian dan pembahasan di atas, dapat disimpulkan bahwa penerapan Motode Simulasi Lomba Pidato Berbahasa Indonesia pada pengajaran materi pidato persuasi tanpa teks, dapat meningkatkan ketrampilan berpidato pada siswa

    Hasil belajar siswa ada peningkatan yang signifikan. Ini dapat dilihat dari rata-rata nilai terendah, nilai tertinggi, nilai rata-rata kelas, dan ketuntasan belajar klasikal yang lebih baik daripada siklus sebelumnya. Aktivitas siswa dalam kegiatan belajar mengajar lebih baik, lebih termotivasi, lebih bersemangat, lebih menyenangkan. Semua siswa diberi kesempatan untuk melaksanakan pidato di depan teman-temannya, sambil diberi kesempatan mengamati kelebihan dan kekurangan orang lain dalam berpidato, sehingga dapat meningkatkan pemahaman terhadap konsep pidato persuasi yang lebih baik.

    Saran

    Mengingat Motode Simulasi Lomba Pidato Berbahasa Indonesia ini dapat menajamkan pemahaman, dan memberikan pengalaman individu yang lebih baik, maka metoda ini dapat digunakan untuk mengajarkan materi pelajaran bahasa Indonesia yang menuntut pengalaman siswa secara individual. Di samping itu metode ini akan menarik, bila disertai dengan media pembelajaran berbasis teknologi informasi, dengan kombinasi yang bervariasi. Namun tetap harus diingat, sebaik-baik metode tidak akan dapat diterapkan pada semua situasi dan kondisi materi pelajaran.

    DAFTAR PUSTAKA

    Arikunto, Suharsimi dkk. 2008. Penelitian Tindakan Kelas. Jakarta: PT Bumi Aksara

    Depdiknas. 2001. Manajemen Peningkatan Mutu Berbasis Sekolah. Jakarta.

    Hartati,Dwi. Paragraf Persuasif.

    http://www.oke.or.id/tutorial/BI-pargrafpersuasif.pdf (diunduh 4 Agustus 2009)

    http://baguspsi.blog.unair.ac.id/2008/10/15/komunikasi-persuasi/

    http://media.diknas.go.id/media/document/3553.pdf

    Jurnal Pendidikan Widya Tama Vol. 1 no. 3 LPMP Jawa Tengah. September 2004.

    Prijosaksono, Aribowo dan Roy Sembel. 2002. Berbicara di Depan Publik. http://sinarharapan.co.id (diunduh 17 Juli 2009).

    Nata, Abuddin. 2004. Manajemen Pendidikan. Jakarta: Prenada Media.

    Subyantoro. 2009. Penelitian Tindakan Kelas. Semarang: Badan Penerbit Universitas Diponegoro Semarang.

    Tarigan, Henry Guntur. 1981. Berbicara sebagai Suatu Ketrampilan Berbahasa. Bandung: Angkasa.

    Winarno, Surachmad. 1984. Pengantar Penelitian Ilmiah, Dasar Metode dan Teknik. Bandung: Tarsito.

    -oOo-


    * Guru bahasa Indonesia SMAN Ajibarang Kabupaten Banyumas.

    Tag: , , ,

    Berikan Balasan

    Please log in using one of these methods to post your comment:

    WordPress.com Logo

    You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

    Twitter picture

    You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

    Facebook photo

    You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

    Google+ photo

    You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

    Connecting to %s


    Ikuti

    Get every new post delivered to your Inbox.

    %d blogger menyukai ini: